Dulu waktu aku masih kecil, Bapak sering mengajakku ke tukang cukur langganannya di deket Pasar Bantul, kalo nggak salah ingat namanya pak Dakir. Didudukkan di kursi tinggi khusus anak-anak, aku merasa senang. Aku juga senang melihat tangan lincah pak Dakir memainkan alat cukur dan gunting, merapikan rambut Bapakku.
Memasuki masa sekolah, aku tidak pernah diajak lagi. Untuk memotong dan merapikan rambutku, aku cukup pergi ke rumah budheku. Ambil kursi dan koran, taruh kursi di halaman samping rumah budheku, pasang koran mengelilingi bahu, selesai
Model rambutku begitu-begitu aja, tidak berubah, gampang motong jadinya.
Masa SMA, aku dan sepupuku beberapa kali ke salon rambut di dekat perempatan Gose. Bayarnya murah, nggak sampai 10 ribu. Tujuh ribu atau malah tiga ribu, hihihi… Udah lupa tepatnya berapa.
Pengalamanku dengan salon sangat terbatas. Terakhir ke salon bareng Bonita dan mbak Saura, itu juga udah dua tahun kali ya, hehehe… Nggak tau kenapa males ke salaon, padahal rasanya menyenangkan ya. Rasanya seperti mbak-mbak gaul ibukota hahaha…
Aku suka rambutku panjang. Kalaupun pengen pendek, aku lebih sering memotong rambutku sendiri dan minta dirapihin, disamain panjangnya dikit bagian belakang. Ngga susah kok. Terakhir kali potong rambut sendiri waktu masih kuliah D3. Waktu itu lagi ujian. Capek belajar, aku melihat gunting. Aku ambil dan langsung deh mulai motong-motong, hehehe…
Malam minggu kemarin, aku lagi nonton TV sambil membaca majalah. Tiba-tiba aku melihat gambar ini.

gambar minta dari sini
Duh manisnya dek Camilla. Aku jadi pengen juga punya poni, hehehe…
Aku ambil gunting, krek krek krek… Ngaca
Waah, rasanya menyenangkan.
I want more!!! Bagaimana dengan warna rambut baru?




Recent Comments