Besok Pake Batik Yaaa!!!

Baru terima fax dari Kantor Pusat.

Isinya surat himbauan kepada seluruh pegawai untuk  memakai batik besok, tanggal 2 Oktober 2009.

Kasubbagku memerintahkan aku untuk segera mengedarkan ke seluruh pegawai.

Tentu saja aku disambut tertawaan mereka.

Besok adalah hari Jumat. Jumat adalah hari memakai batik di instansi kami.

Eh tapi bukan itu saja, Pak Sesdit juga menyuruh kami para pegawai untuk menghimbau keluarga dan sanak saudara kami untuk memakai batik juga. Tenang aja Pak, ibukku biasanya juga pake daster batik kok, nggak perlu pake himbauan segala hehehehehe…

Hidup Batik! Hidup Indonesia!!!

Gempa(r) Lagi

Gempa lagi… Aku baru tau sekitar maghrib, tau dari status fb-nya Endang. Sayangnya nggak bisa memantau berita di tv, kena giliran pemadaman listrik (lagi).

Mbak Ratna dan mbak Rina, tetangga sebelah kamar, lagi sibuk nelponin rumah di Padang. Nggak nyambung-nyambung. Alhamdulillah pagi tadi ada kabar ibu mereka aman.

Tadi pagi sampai kantor dapat kabar kalo rumah nenek mas Ruri rata dengan tanah, keluarga selamat. Chatting sama teh Deuis, dapet kabar kalo ayah mbak Nita masih dicari sama kakak dan adek mbak Nita. Kebetulan ayah mbak Nita sedang menengok rumah orang tua di Pariaman, pusat gempanya.

Jadi ingat gempa Jogja 3 tahun yang lalu.

Waktu itu ada libur 4 hari, entah ada hari besar apa. Biasanya aku pulang, entah kenapa waktu itu aku di Jakarta aja.

Hari Sabtu itu, selesai sholat Subuh aku memutuskan tidur lagi. Tiba-tiba ada pesan masuk dari Jatmiko, temen SMP-ku yang tinggal di Sleman. Dia meminta tolong aku melihat berita, karena listri di sana padam. Dia khawatir ada kaitannya dengan Gunung Merapi. Memang minggu itu Gunung Merapi sedang aktif.

Aku segera turun untuk mengecek berita. Di Metro TV dikabarkan ada gempa di Jogja, ada gambar live di Kota Jogja. Di situ terlihat baik-baik saja, hanya gambar warga Jogja yang keluar dari rumah. Aku segera menelpon rumah, alhamdulillah semuanya selamat. Alhamdulillah…

Setelah itu menjawab pertanyaan dari teman-teman tentang kabar keluarga. Dan juga menanyakan kabar teman-teman mBantul dan Jogja lainnya. Alhamdulillah selamat juga.

Sampai kemudian aku menelpon seorang teman, dia bilang dia sudah mengungsi di Gunung Sempu karena kabarnya ada tsunami, katanya air sudah sampai Srandakan. Innalillahi…aku langsung merasa lemas, teringat gempa dan tsunami Aceh dua tahun sebelumnya. Aku akan sendirian… Langsung menelpon adekku, tapi nggak bisa nyambung.

Alhamdulillah kemudian lewat berita di tv disebutkan bahwa tsunami hanyalah isu. Meskipun begitu sambungan telepon masih error sampai malam, nggak ada sinyal, listrik mati nggak bisa mengisi ulang baterai ponsel, hujan pula. Ya Allah, mohon lindungi mereka di sana…

Hari Rabu sore, bersama Prima yang rumahnya rubuh, aku diantar ke Bantul oleh pak Abdullah naik mobil kantor sekalian mengantar bantuan dari Kakanwilku untuk keluarga beliau di Imogiri. Melihat gambar keadaan di sana sudah meremukkan hati, apalagi melihat secara langsung di sana. Imogiri adalah salah satu daerah dengan kerusakan terparah dan korban terbesar T.T

Ada yang bisa kusyukuri dari musibah itu. Alhamdulillah kejadiannya pagi-pagi sehingga seluruh keluarga masih berkumpul, nggak terpisah. Kalau dibandingkan dengan gempa Padang ini, sore hari sehingga tidak tahu kabar antar keluarga.

Meskipun sebenernya kalau bisa memilih, aku akan memilih ada di sana bersama keluargaku saat kejadian daripada aku di Jakarta nggak tau kabar di sana. Tapi ternyata ada hikmahnya, aku bisa pulang ke sana sambil membawa bantuan obat-obatan dan makanan dari Jakarta.

Yang paling kusyukuri adalah perhatian dari seluruh dunia. Kami begitu dibantu saat itu. Dibandingkan dengan musibah banjir lumpur di Porong Sidoarjo, kami menerima banjir bantuan.

Pada akhirnya, kami mempunyai rumah-rumah baru. Banyak negara-negara asing yang membantu membangunkan rumah. Dulu yang rumahnya sudah jelek, atau tidak punya rumah, atau masih tinggal bersama-sama keluarga lain, kini mempunyai rumah-rumah baru yang meskipun mungil tapi cantik.

Apapun itu, rencana Allah pasti sempurna dan indah.

Untuk saudara-saudaraku di Sumatera, aku turut berduka cita ya.. Para korban jiwa semoga diampuni segala dosanya dan diberi tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Semoga ayah mbak Nita segera ketemu. Semoga bantuan cepat mengalir.

Aamiin…

Sarung-sarung Mas Rahmat

Waktu trah kemarin, sepupuku mas Rahmat pulang dari Jakarta, membawa oleh-oleh sarung untuk pakdhe-pakdhe dan paklik-pakliknya.

Sebagai paklik, Bapakku kebagian satu buah sarung. Warnya paduan krem dan biru dengan kotak-kotak besar, cantik paduan warnya, cocok dengan baju koko baru dariku. Bapakku orang yang sangat teliti, setiap baju baru pasti beliau teliti, beliau potong setiap sisa benang yang tidak rapi. Begitu juga sarung dari mas Rahmat dengan hati-haati beliau singkirkan sisa-sisa benang jahitan yang tidak rapi.

Besoknya, paklikku sore-sore datang ke rumah. Naik sepeda dari rumah paklik kira-kira 20 – 30 menit. Waktu acara trah kemarin masing-masing keluarga diminta mengumpulkan foto keluarga, kayaknya foto keluargaku ukurannya agak terlalu besar. Kupikir paklikku dikirim sepupuku untuk menukar foto itu. Tega banget sih Yudha begitu.

Ternyata bukan begitu ceritanya. Begini cerita Bapakku setelah Paklikku pulang.

Paklikku nanya ke Bapak, “Pakdhe dapat sarung dari Rahmat nggak?”

Bapakku, “Iya aku dapat”

Paklikku, “Boleh lihat pakdhe?”

Setelah melihat sarung Bapak, “Boleh tukar sarungnya?”

Hahahaha… Dengan senang hati Bapakku mau menukar sarung tersebut. Aku dan ibukku langsung menyesalkan.

Yo apik sarunge Bapak…” Sarung paklikku motifnya kotak-kotak kecil, biasa banget seperti sarung kebanyakan, nggak sebagus sarung Bapak yang ditukar.”

Yo ora.. apik sing iki.. luwih alus ki..“, bantah Bapakku..

Aku dan Ibuk bertukar tawa, “Yang penting semua senang, hahaha…”

Hal yang membuat kami tertawa lebih keras, sebelum datang ke rumah kami, paklik terlebih dahulu datang ke rumah pakdhe Ko. Ternyata sarung pakdhe Ko kurang menarik bagi paklik, jadi paklikku nggak jadi menukar sarungnya, hihihi…