PMS???

Pagi-pagi masang muka cemberut sama kondektur bis yang nyuruh aku masuk lebih dalam ke bis. Udah sepenuh itu, mau ke dalam mana lagi? Masang muka cemberut kepada para penumpang yang tetep maksa masuk padahal bisnya udah penuh kayak gitu. Padahal mereka nggak salah. Malah itu salahku sendiri, berangkat lebih siang :(

Sampai kantor pasang senyum karena nggak jadi telat :)

Duduk di meja, belum sarapan, dengerin curhatan mbak Nin kejadian kemaren sore. Ikut terbawa emosi.

Baru mau sarapan, ada telepon masuk. Aku angkat, nadanya udah tinggi menanyakan hal yang kemaren sore udah selesai masalahnya. Dan pagi tadi diulangi lagi. Aku menyesuaikan nada tinggi. Galak banget…

Dan sekarang aku menyesal. Seharusnya bisa dibicarakan baik-baik. Kita sama-sama orang dewasa, apalagi bekerja di kantor yang sama, harusnya profesional, kerja pake akal bukan emosi. Aku minta maaf atas kalimat nada tinggiku, bukan atas masalah yang terjadi. Aku benar dalam masalah itu.

Aku nggak akan mengeluhkan pekerjaanku. Malah aku harus bersyukur aku masih punya pekerjaan. Hanya saja aku sedih sekali, pekerjaan ini menyebabkan beberapa orang yang tadinya teman memusuhi kami, orang-orang kepegawaian ini. Aku hanya bisa sabar dan berdoa, suatu saat mereka akan ada di posisi kepegawaian. Dan mereka akan mengerti, suatu saat nanti. Aamiin..

Ijinkan aku menyalahkan PMS kali ini.

Comments (1) »

Membuat Orang Lain Menurut

Kemarin sore aku berencana ke dokter. Sebelumnya aku udah menelpon, nanya tutup pendaftarannya jam berapa. Kalau nggak nanya dulu takutnya ada pembatasan pasien lagi, seperti kunjungan sebelumnya.

“Tutup jam 7,” jawab si mbak di sana. Alhamdulillah, insya Allah sekitar jam 6 aku udah sampai di sana.

Kurang lebih jam 6 lewat 16 menit aku sampai di RSIA itu. Dalam pikiranku, segera setelah mendaftar aku akan sholat dan istirahat di mushola. Setelah sholat isya baru aku akan mengantri giliranku. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pendaftaran jam segitu dapat giliran jam 9 malam.

Di depan meja pendaftaran, aku nggak melihat nama dokter Inong. Loh? Kok nggak ada sih?

“Dokter Inong udah ditutup pendaftarannya, mbak,” jelas si mbak.

“Tadi saya sebelum ke sini nelpon dulu, dikasih tau tutup jam 7. Sekarang baru jam 6 lewat, kok udah tutup mbak?”

“Iya tadinya memang tutup jam 7. Tapi tadi baru terima telpon dari polinya minta ditutup pendaftaran, udah 120 orang. Dokternya mau pulang cepet,” jelas mbak satunya.

“Yaaah… tadi dibilang jam 7. Saya rugi waktu dong, mbak..” Halah gayamu Di… Eh bener kan ya, time is money katanya :P Lagian aku juga ga tau kapan punya waktu ke situ. Minggu depan udah mulai kuliah lagi. Pokoknya harus ketemu dokter Inong. Pokoknya.

“Nggak bisa ditambah satu lagi nih mbak,” rayuku pada mbak-mbak itu.

Mereka menggeleng minta maaf. Gagal! :(

“Ya udah deh kalau gitu. Permisi mbak..”

Tapi bukannya permisi pulang, aku punya ide bagus ;) Aku langsung menuju poli dokter Inong, ngomong sama mbak yang di sana. Si mbak poli sedang meracik obat, aku melongokkan kepalaku lewat jendela.

“Mbak, saya tadi nelpon ke sini dibilang tutup jam 7. Eh nyampe sini katanya udah tutup. Gimana tuh mbak? Saya udah jauh-jauh ke sini lho.. ” Bohong dikit hehehe.. Kalibata nggak jauh-jauh amat kali. Tapi jauh juga lho kalo jalan kaki ke situ. Beneran deh kalo nggak percaya boleh dicoba sendiri.

Mbaknya dengan pandangan amat sangat terganggu memandangku, “Duduk dulu ya mbak..”

Ok.. aku duduk di antara puluhan orang itu. Sedetik, 50 detik, 2 menit, tiga… Aku nggak tahan dicuekin gitu aja.

“Mbak, jadi saya gimana?”

Mbaknya makin kesel. Lagi rame dan sibuk gini kok ya ada calon pasien bandel begini. “Duduk dulu ya mbak..” katanya lagi berusaha sabar.

“Iya mbak..” Aku kabur ke mushola. Ngadu ke Allah kalau aku ditolak, hiks..

Kembali ke poli, aku duduk sebentar. Mencari celah saat si mbak lengah, hehehe.. Akhirnya ada kesempatan. Ada mbak satu lagi di situ. Langsung aku todong dengan permohonanku tadi. Tetep ngeyel dan pasang muka melas.

“Mbak, tambah satu aja ya? Saya cuma konsul kok, bukan peeling. Bentar aja kok mbak… Cuma konsul..”

“Gimana?” mereka bisik-bisik. Aku menggunakan kekuatan pikiran, “Ayo mbak tambah satu aja.. Tambah satu boleh.. Tambah satu”

Mbaknya belum nyerah, “Tapi nunggu lho mbak..”

“Iya, saya terakhir juga nggak apa-apa deh..”, aku makin ngeyel.

“Ya udah. Mbak namanya sapa?” tanyanya sambil menulis di kertas bekas kuitansi.

“Diah”

“Ini kertasnya dibawa ke tempat pendaftaran,” kata si mbak dengan tampang jengkel.

“Terima kasih,” aku tersenyum lebar penuh kemenangan.

Dengan hati senang aku ke tempat pendaftaran. Selesai tiga pendaftar di depanku, tiba giliranku. Berusaha menyimpan senyum kemenanganku, aku bilang maaf sambil nyerahin pesan dari mbak poli. Mereka menyerah. Kalah! Aku menang haha… Aduh aku merasa senang tapi sekaligus merasa sedikit jahat. Maafkan aku ya mbak-mbak…

Selesai urusan pendaftaran, aku duduk manis sambil meneruskan bacaanku, Negara Kelima. Aku mengira giliranku sekitar jam 9-an. Soalnya banyak banget yang antri, kursi tunggu hampir penuh. Eh nggak taunya belum habis baca 2 halaman, sekitar jam 7 lewat dikit aku dipanggil masuk. Ngobrol bentar sama dokter, diaksih resep. Nunggu obat, alhamdulillah cepet, udah dikasih obatku. Obat satu lagi beli di Century, cuma nunggu satu giliran. Selesai.

Di seberang RSIA, aku mampir beli mie aceh. Sampai rumah jam 8! :D

Jadi ya, salah satu tips dariku untuk membuat orang menuruti keinginan kita adalah dengan pasang muka memelas dan ngeyel apapun yang terjadi. Berhasil padaku… ^_^V

Comments (23) »

Pesan Dari Mbak Ruri

Sudah telat beberapa hari, aku baru sempat posting sekarang.

Untuk tanggal 8 kemaren, sebenernya aku udah punya satu tulisan tentang suatu niat untuk setahun ke depan. Tapi ada satu kejadian yang langsung menguji kebersihan niatku. Dan aku merasa lemah, niatku ternyata masih kurang kuat. Itu membuatku sedih.

Menengok inboxku, melihat ratusan surat masuk yang berasal dari anggota-anggota suatu milis yang belum lama ini menerima aku sebagai salah satu anggota, aku menemukan sesuatu di hari ulang tahunku. Sesuatu itu kabar tentang mbak Ruri, yaitu berita kepergiannya (mbak Ruri pergi tanggal 5, aku baru buka-buka inbox hari-hari berikutnya). Kabar duka, sungguh menamparku. Mengembalikan fokusku ke arah yang seharusnya, arah yang seringkali aku lupa berada di mana. Aku menganggapnya sebagai hadiah paling berharga di hari ulang tahunku, karena mbak Ruri telah menguatkan kembali niatku. Terima kasih dan selamat jalan mbak Ruri, semoga Allah menempatkan mbak Ruri di tempat terbaik. Dan semoga pak Alfie, dek Abit, dan dek Fira diberi ketabahan. Aamiin..

Dan sekali lagi, aku iri. Meskipun aku nggak mengenal mbak Ruri secara pribadi, aku iri padanya. Iri pada ilmu-ilmu bermanfaat yang dibagi mbak Ruri kepada kita. Pahalanya akan terus mengalir kan… Iri pada ketegarannya. Juga iri pada persahabatannya dengan anggota-anggota milis, betapa banyak cinta dan doa dikirim mereka untuknya.

Kurasa aku juga punya persahabatan seperti itu. Terima kasih atas doa-doa untukku ya teman-teman..

Comments (12) »