Intoleransi Laktosa

itf351041

Selain teh, aku juga seorang penggemar susu.

Aku pernah baca, susu yang paling bagus itu susu murni UHT, karena masih alami. Karena itu aku mencoba beli susu itu.Ukuran 1 liter, harus dihabiskan sebelum 4 hari. Enak ya rasanya, gurih-gurih gitu.

Anehnya, perutku  rasanya aneh beberapa saat, 1 - 2 jam gitu setelah minum susu. Aku terkena diare. Apa karena susunya dingin ya? Ataukah susunya udah mau expired? Atau kemarin salah makan? Mungkin salah satu dari ketiga hal itu.

Kapok lombok, aku masih beli susu itu. Terjadi reaksi yang sama. Kenapa ya? Ya sudahlah, minum susu yang lain aja. Kalau susu yang udah diolah, susu rasa coklat misalnya, perutku nggak apa-apa.

Tadi pagi aku minum segelas susu kental manis ( 2 sachet, soalnya tadi kebanyakan nuang air di gelas) dan 2 potong roti tawar premium (lebih banyak susunya). Ternyata perutku bereaksi seperti saat aku minum susu murni dingin, meski reaksinya tidak separah biasanya.

Jadi ingat lagi  beberapa waktu lalu aku meminjam majalah Prevention milik mbak Rahma. Di situ aku menemukan kata “intoleransi laktosa”.

Ini hasil googling tentang intoleransi laktosa.

Anda sering mengalami diare hanya karena Anda gemar minum susu? Anda tidak sendirian! Hampir 95% bangsa Asia, 10-15 % ras Kaukasia, 50% bangsa Mediterania dan 75% ras kulit hitam menderita hal yang sama.

Intoleransi terhadap Laktosa (Lactose Intolerance) adalah kondisi di mana seseorang tidak mampu mencerna laktosa, yaitu bentuk gula yang berasal dari susu. Ketidakmampuan ini bisa disebabkan oleh kurangnya atau tidak mampunya tubuh memproduksi LAKTASE, yaitu salah satu enzim pencernaan yang diproduksi oleh sel-sel di usus kecil yang bertugas memecah gula susu menjadi bentuk yang lebih mudah untuk diserap ke dalam tubuh. Kondisi ini disebut juga Defisiensi Laktase (Lactase Deficiency).

Dalam kondisi normal, ketika laktosa mencapai system pencernaan, enzim lactase akan segera bekerja memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Galaktosa sendiri oleh hati akan diubah menjadi glukosa, thus meningkatkan kadar gula dalam darah. Oleh karena itu, tidak meningkatnya kadar gula darah setelah minum susu bisa dianggap sebagai diagnosa adanya intoleransi laktosa.

Pada beberapa kasus, ada anak-anak yang terlahir tanpa kemampuan memproduksi enzim lactase. Namun kondisi ini membaik secara alami seiring waktu sampai sekitar usia 2 tahun, tubuh mulai ‘belajar’ memproduksi lactase sedikit demi sedikit. Sehingga tidak heran jika pada usia dewasa, gejala-gejala intoleransi laktosa bisa berangsur-angsur hilang.

Produk-produk Mengandung Laktosa
Selain dari susu dan olahannya (seperti keju dan mentega), laktosa juga sering ditambahkan ke dalam berbagai produk jadi. Penderita intoleransi laktosa sebaiknya mengetahui produk-produk makanan apa saja yang mungkin mengandung laktosa, walaupun dalam jumlah yang sangat kecil. Beberapa produk yang mungkin mengandung laktosa antara lain: Roti, biscuit, kue kering, dan sejenisnya.

Pembeli yang cermat hendaknya memperhatikan label makanan yang dibeli dengan seksama, bukan hanya untuk kandungan ’susu’ dan ‘laktosa’, tapi juga untuk kandungan turunan susu seperti ‘whey’, ‘curds’, ‘hasil sampingan susu’, ’serbuk susu’, dan ’serbuk susu nonfat’. Jika di dalam label tercantum kandungan-kandungan di atas, bisa dipastikan produk tersebut mengandung laktosa. Sebagai informasi tambahan, saat ini laktosa juga masih digunakan sebagai bahan pengisi obat.

Gejala Intoleransi Laktosa
Laktosa yang tidak tercerna akan menumpuk di usus besar dan terfermentasi, menyebabkan gangguan pada usus seperti nyeri perut, keram, kembung dan bergas, serta diare, sekitar setengah jam sampai dua jam setelah mengkonsumsi produk laktosa. Gejala-gejala ini kadang-kadang disalahartikan sebagai gangguan saluran pencernaan. Tingkat keparahan gejala-gejala tersebut bergantung pada seberapa banyak laktosa yang dapat ditoleransi oleh masing-masing tubuh. Gejala-gejala ini mirip dengan reaksi alergi susu, namun pada kasus alergi, gejala-gejala ini timbul lebih cepat, kadangkala hanya dalam hitungan menit.

Jika seseorang yang menderita defisiensi lactase tidak menghindari produk-produk yang mengandung laktosa, lama kelamaan orang tersebut dapat kehilangan berat badan dan menderita malnutrisi.

Yang Boleh dan Yang Tidak Boleh
Walaupun kondisi intoleransi laktosa tidak terbilang berbahaya bagi kesehatan, namun kondisi ini cukup mengganggu si penderita. Oleh karena itu, penderita intoleransi laktosa sebaiknya belajar memilah-milah makanan atau minuman mana saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Kurangi, atau jika intoleransi demikian parah, hindari konsumsi produk-produk mengandung laktosa. Jika tidak sanggup hidup tanpa susu, ada baiknya mengkonsumsi suplemen berisi enzim lactase tiap kali mengkonsumsi produk-produk beresiko, tentunya dengan pengawasan dokter. Bagi wanita usia lanjut yang beresiko osteoporosis, atau anak-anak yang berada dalam usia pertumbuhan yang terpaksa harus menghindari produk-produk mengandung susu, kebutuhan kalsium dapat dipenuhi dari banyak makan sayuran hijau, ikan, dan produk kaya kalsium yang bebas laktosa. Yang terpenting adalah berhati-hati dalam pemilihan pola makan, dan rekomendasi suplemen dari dokter adalah kunci dalam mengurangi gejala-gejala dan memberikan perlindungan kesehatan terhadap si penderita.

Kehilangan berat badan dan malnutrisi??? Waaah, kok serem ya. Kenapa bisa ya? Padahal dulu aku baik-baik saja kalau minum susu.

Harus cari asupan lain untuk mencukupi kebutuhan kalsium nih.

10 Responses to this post.

  1. iya kadang emang ada orang2 yang nggak tahan minum susu.
    dulu di jember ada bapak2 yang jualan susu murni keliling, aku nggak tahan kalo minum susu sapi murni.
    tapi sekarang suka banget minum bear brand. bukan susu beruang lho ya…

    Reply

  2. same case karo aku, kadang diare, tapi paling sering, hbs minum asam lambungnya langsung koyok bereaksi…biyen susu macem indomilk ato sing wis siap minum jik gpp, suwe2 g iso juga..
    nek sing wis produk olahan ga gt keroso efek.e

    ternyata kek gitu masalah intoleransi ya, tak pikir mung semacam … semacam… (ga iso nemu kalimat sing tepat) oh ya ya, menjelaskan knp aku juga ndak bisa menerima konsep ‘ganti nasi dengan roti untuk sarapan’ hahaha..

    in case aku ndak doyan susu, so far so good :D
    dan aku stay ndut ae :P

    Reply

  3. padahal susu kan enak en bergizi …. nyam
    eh btw kalo malah ga kuat minum susu sapi asli …. ga kulino kali ya ???

    Reply

  4. aku dulu gpp karena udah biasa, sekarang gara” jarang minum susu kadang juga diare. mau balik lagi ke susu kok susah, piye jal???

    Reply

  5. Posted by devy on September 12, 2009 at 9:51 am

    sewaktu hamil aku minum susu gak ada reaksi sakit perut ato diare,tapi setelah menyusui kok kalo minum susu merk apa aja pasti mules..kenapa ya?

    Reply

Respond to this post