
jupiterimages.com
Teringat cerita seorang teman tentang ayah.
Temanku punya seorang sahabat. Satu angkatan, satu kantor, satu kost pula. Dekat dan akrab.
Ayah sang sahabat sudah berbulan-bulan sakit. Sudah dioperasi, tetapi takdir Allah kalau ayah sang sahabat meninggal. Temanku mengantar sahabatnya pulang ke rumah di Ciamis, sambil sepanjang jalan menghibur, “Sabar ya Cik..”
Ada dua mobil rombongan melayat ke Ciamis. Sampai di Karawang, temanku menerima telepon dari sepupunya, “Uwak meninggal, Teh…”
Ayah temanku terkena serangan jantung. Jatuh di rumah dan sepertinya langsung meninggal. Karena belum percaya, orang rumah membawa sang ayah ke rumah sakit.
Satu mobil kembali lagi ke Tangerang mengantar temanku pulang.
“Aku nyeselnya kenapa waktu berangkat ke Ciamis nggak pamit, aku nggak nelpon rumah. Aku pikir di rumah nggak ada apa-apa…” Dua sahabat kehilangan ayah di hari yang sama.
T_ T
Aku, merasa kurang berkabar dengan orang rumah. Itupun lebih sering ngobrol dengan ibuk. Kalau aku tanya ke mana Bapak, jawab ibuk, “Ini lagi dengerin. Tadi minta dibangunin kalau anaknya nelpon”. Kalau aku ajak ngobrol, malah Bapakku yang suka nutup telepon duluan, ” Wis yo, wassalamualaikum..” Padahal aku yang nelepon dan belum niat selesai pula.
Tadi pagi teleponku error, sepertinya pertanda harus lebih sering berkabar dengan rumah mBantul. Selagi masih ada waktu.
Untuk Mbak Hesty dan Pak Kholid, semoga ayahnya diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, aamiin..
Posted by mrflow on June 19, 2009 at 4:25 pm
turut berduka buat mbak hesty dan pak kholid…
Posted by chang'e on June 19, 2009 at 7:43 pm
Turut berduka cita..
Posted by beruangqutub on June 22, 2009 at 12:27 pm
seandainya kami yakin bahwa meninggal itu adalah proses perpindahan menuju alam yang lebih baik, kenapa harus berduka ?
terima kasih diah, terima kasih semuanya…
Posted by GeLZa on June 22, 2009 at 4:10 pm
saya juga menyesal tidak dekat dengan ayah sejak kecil…
semoga nantio saya bisa bertemu lagi…
salam…
Posted by pras on June 23, 2009 at 3:05 pm
turut berduka cita ya mbak Hesty dan Pak Kholid, semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT, amiin…
Buat mbak Diah terimakasih sudah mengingatkan betapa berharganya kebersamaan dalam keluarga, apalagi lihat ilustrasi gambar dari jupiterimages.com (jadi sedih nih).
Posted by nadya on June 23, 2009 at 10:38 pm
wealah kok iso bareng yo? innalillahi wa inna ilaihi rojiun ….