Tadinya, menurutku ini adalah perbuatan munafik jika : kamu tidak menyukai (atau mungkin hanya kesal, atau malah justru benci) seseorang, di belakangnya kamu membicarakan hal yang tidak kamu sukai darinya dengan teman-temanmu, tapi di depannya kamu becanda tertawa-tawa dengannya. Wah, akting yang hebat. Aku belum mampu mencerna kalimat “Bencilah perbuatannya, bukan orangnya.”
Tadinya, aku adalah orang yang mudah dibaca. Ekspresi wajahku merefleksikan rasa hatiku. Kalau aku sebel sama seseorang, aku akan menghindari dia. Kalau terpaksa harus ketemu, otomatis wajahku jadi nggak seramah sama orang-orang lain. Bahkan aku tidak akan tahan bicara dengannya. Melihatnya, mendengar suaranya membuatku terganggu. Menurutku, itu jujur. Walaupun aku juga bingung, jujur tapi berpeluang menimbulkan konflik.
Kemudian aku mendengar gosip dari ibu-ibu tentang dua orang bapak yang berkonflik. Mereka kalau papasan tidak bertegur sapa. Orang-orang berkomentar, “Kayak anak kecil”
Aku bingung. Seharusnya seperti apa? Jujur dengan hatimu tapi mengundang masalah, atau akting tapi menjaga kerukunan.
Sampai aku menemukan gambar di tumblr itu. Aku mulai belajar : kalau kamu nggak suka dengan perbuatan seseorang, ingatkan dia bahwa perbuatannya itu salah, jika berani. Tidak perlu pake marah dan memusuhi dia.
Ada seseorang yang tidak aku sukai. Aku bukan pendendam tapi untuk kasus yang satu ini, aku rasa dia banyak menyakiti hatiku. Tadinya aku sebisa mungkin menghindarinya. Belakangan aku sudah bisa mulai bicara dengannya, setidaknya tersenyum kalau ketemu. Mungkin karena aku sudah lebih dewasa. Mungkin juga karena aku mendengar bukan hanya aku yang tidak menyukainya, melainkan lebih banyak orang, bwahahahahaha *evil laugh* Tapi, meski ada banyak orang yang tidak menyukainya, banyak orang itu ternyata masih bisa berhahahihi dengannya. Aku tidak akan memaksakan diriku ikutan hahahihi. Aku hanya akan bersikap lebih ramah. Setidaknya aku harus menghormatinya walaupun hanya karena lebih tua umurnya.
