Trah adalah sekelompok individu yang saling memiliki hubungan kekerabatan (silsilah) satu-sama lain. Terdapat suatu buku/catatan silsilah yang biasanya menjadi rujukan untuk menunjukkan hubungan kekerabatan itu. Hubungan kekerabatan ini kadang-kadang tidak hanya bersifat biologis tetapi juga sosial, dalam arti ada anggota yang diangkat (karena adanya perkawinan kedua atau adopsi, umpamanya) walaupun tidak terkait secara biologi.
Dalam masyarakat aristokrat, trah erat berkaitan dengan istilah dinasti atau wangsa. Dalam masyarakat timur yang mengutamakan kebersamaan, seperti yang dipraktekkan oleh sebagian suku bangsa di Indonesia, anggota trah seringkali mengorganisasikan diri untuk mempererat hubungan personal di antara mereka. Dalam masyarakat Jawa, sering kali alasan yang dipakai adalah agar mereka tidak saling melupakan satu sama lain (kepatèn obor).
-wikipedia
Trah Tjokrowiharjo (Cokro? mbuh nulise piye), silsilah keluarga dari Bapak. Tjokrowiharjo itu nama simbah kakungku. Aku belum pernah ketemu, beliau meninggal saat Bapakku masih kecil. Jadi silsilahku di Trah Tjokrowiharjo ini adalah sebagai cucu. Biasanya trah diadakan hari keempat lebaran, hari ketiganya untuk Trah mbah buyut.
Meskipun tempatku di trah ini baru sebagai cucu (bandingkan dengan trah budhe Jah : budheku sebagai buyut di situ, sementara budheku sudah punya cucu
jadi cucu budheku itu sebagai apa? wareg? udheg-udheg? gantung siwur? mbuh ra ruh istilahe), ternyata anggota trah ini sudah banyak sekali. Aku nggak bisa semuanya, ini saudara namanya siapa, dari keluarga mana, pernah-e sebagai apa,terutama saudara-saudara karena hubungan perkawinan. Maklum bapakku punya 8 saudara. Masing-masing saudara tersebut sudah beranak cucu.
Bapakku menikah paling akhir dibanding saudara-saudaranya, jadilah aku dan adikku jauh selisih umur dengan sepupu-sepupuku. Banyak anak sepupuku yang umurnya lebih tua dari aku, malah ada beberapa sepupuku yang udah punya cucu
Saking amburadulnya silsilah anggota, sampai-sampai ada anak sepupuku, keponakanku, yang memanggilku ” Dek Diah”, padahal harusnya kan “Bulik Diah” hehehe… Memang umur kami nggak beda jauh. Aku senyum-senyum aja. Bukannya gila hormat pengen dipanggil bulik, tapi aneh aja rasanya hehehe…
Pertanyaan klasik dan mematikan saat trah begini biasanya, “Kapan?”
Aku jawab, “Insya Allah senin aku balik ke Jakarta” Itu juga biasanya perntanyaan untuk perantau kan, kapan nyampe, kapan balik…
Yang aku heran, dari kecil sampai segede ini aku ikut trah, Tommy Tjokro kok belum pernah datang ya….








Recent Comments